Little Nisa (part 3)

Majalah anak, mulai kukenal. Sebut saja: Kuncung, Bobo, Donal Bebek, Tintin, Nina, dan masih banyak lagi. Tentunya, semua kunikmati berkat adanya penyewaan buku. Terkadang juga menumpang baca di rumah teman.

Seminggu menjelang ujian sekolah ….

“Anak-anak, jangan lupa mengulang pelajaran sepulang sekolah, ya! Minggu depan kalian sudah mulai ujian. Kalau nilainya jelek, nanti kembali ke TK!” Bu Guru Suyati mengingatkan seisi kelas dengan suara keras.

“Iyaaa, Bu guruuu!” seru seluruh murid.

Aku hanya terdiam. Kuamati, mimik Bu Suyati sedikit menyunggingkan senyum. Rupanya, ancaman kembali ke bangku TK hanya gurauan semata. Ada-ada saja, caranya mengingatkan murid, seperti seorang nenek memarahi cucu. Kalimatnya galak, tapi wajah berseri ceria.

Maka, dimulai sudah. Siang-malam, buku dan hanya benda berharga itu lah yang kugenggam. Alhamdulillah, lambat laun setiap pelajaran bisa kuikuti. Sepercik rasa syukur menghangat di hati. Bisa mengejar ketertinggalan pelajaran. Walaupun, dilalui dengan tangisan dan ketakutan.

Pagi yang cerah. Rencananya mau berangkat bersama Debby.

“Debby, assalamualaikum!” sapaku di depan rumahnya.

“Alaikumussalam! Eh, elu, Nis. Masuk, yuk! Gue ngabisin sarapan dulu ya,” ajaknya padaku sembari membuka pintu pagar, “udah sarapan belon, nyokap gue bikin pisang goreng tuh. Ntar ya, gue ambilin!” tawarnya kembali padaku. Alhamdulillah, ada rejeki pisang goreng.

“Wah! Mau! ‘Makasih ya, Deb. Jadi enak!” candaku sembari mengeluarkan buku untuk bacaan sejenak.

“Dasar, lu. Asal ngga keseringan, ntar gue suruh bayar!” balas sosok dengan lesung pipi yang indah itu.

Tidak lama kemudian. Kami pun segera berangkat menuju sekolah. Setelah sebelumnya berpamitan pada orangtua Debby. Sambil berjalan, membahas pelajaran yang mungkin sukar dikerjakan.

“Deb, minggu depan udah bakal cawu aja, ya! Padahal gue baru sebulan sekolah. Bisa kagak, ya?”

“He’em. Bisa lah. ‘Kan lu murid kesayangan Bu Suyati. Bentar-bentar kalo ga ada yang ngerti, langsung diajarin,” hibur anak gadis yang baik hati dan ramah itu.

“Ih, lu tuh ye, gue mah kalo ga bisa, ya ‘nanya. Lagian, kalo di rumah gue mau nanya siapa, coba? Untung aja, Bu Suyati kagak marah ya, gue tanyain ‘mulu!” cerocosku sembari kesal tapi sekaligus menahan tawa. Bagaimana tidak, memang konyol kalau diingat. Aku terlalu sering bertanya, padahal teman sekelas tidak terlalu berani melakukan itu.

“Hahaha, ‘udah ‘nyantai aja. Eh, ntar siang, belajar bareng yuk! Ajakin yang lain juga. Biar seru, tapi beneran belajar. Bukan ‘becanda doang!” cetus Debby tiba-tiba.

“Boleh, tuh. Gue ikut aja deh. Ajakin Lina juga, ya! Keknya anaknya pinter. Kalo pas matematika, jawabnya gak pernah salah!”usulku kemudian.

Setibanya di sekolah. Langsung saja Debby mendatangi bangku Lina. Aku tetap di bangkuku. Sebentar lagi, bel mulai pelajaran berbunyi.

Pagi yang cerah. Rencananya mau berangkat bersama Debby.

“Debby, assalamualaikum!” sapaku di depan rumahnya.

“Alaikumussalam! Eh, elu, Nis. Masuk, yuk! Gue ngabisin sarapan dulu ya,” ajaknya padaku sembari membuka pintu pagar, “udah sarapan belon, nyokap gue bikin pisang goreng tuh. Ntar ya, gue ambilin!” tawarnya kembali padaku. Alhamdulillah, ada rejeki pisang goreng.

“Wah! Mau! ‘Makasih ya, Deb. Jadi enak!” candaku sembari mengeluarkan buku untuk bacaan sejenak.

“Dasar, lu. Asal ngga keseringan, ntar gue suruh bayar!” balas sosok dengan lesung pipi yang indah itu.

Tidak lama kemudian. Kami pun segera berangkat menuju sekolah. Setelah sebelumnya berpamitan pada orangtua Debby. Sambil berjalan, membahas pelajaran yang mungkin sukar dikerjakan.

“Deb, minggu depan udah bakal cawu aja, ya! Padahal gue baru sebulan sekolah. Bisa kagak, ya?”

“He’em. Bisa lah. ‘Kan lu murid kesayangan Bu Suyati. Bentar-bentar kalo ga ada yang ngerti, langsung diajarin,” hibur anak gadis yang baik hati dan ramah itu.

“Ih, lu tuh ye, gue mah kalo ga bisa, ya ‘nanya. Lagian kalo di rumah, gue mau nanya siapa coba? Untung aja, Bu Suyati kagak marah ya, gue tanyain ‘mulu!” cerocosku sembari kesal tapi sekaligus menahan tawa. Bagaimana tidak, memang konyol kalau diingat. Aku terlalu sering bertanya, padahal teman sekelas tidak terlalu berani melakukan itu.

“Hahaha, ‘udah ‘nyantai aja. Eh, ntar siang belajar bareng yuk! Ajakin yang lain juga. Biar seru, tapi beneran belajar. Bukan ‘becanda doang!” cetus Debby tiba-tiba.

“Boleh, tuh. Gue ikut aja deh. Ajakin Lina juga, ya! Keknya anaknya pinter. Kalo pas matematika, jawabnya gak pernah salah!”usulku kemudian.

Setibanya di sekolah. Langsung saja Debby mendatangi bangku Lina. Aku tetap di bangkuku. Sebentar lagi, bel mulai pelajaran berbunyi.

Sesaat mereka berbicara, bel pun berbunyi. Debby kembali ke bangku yang sama juga kududuki, kami memang akhirnya jadi teman sebangku.

Bu guru masuk ke kelas. Setelah ketua kelas memimpin salam dan doa, dalam posisi berdiri. Setelah itu, semua diperkenankan duduk kembali.

 

Terlihat di depan kelas, bu guru memegang penggaris kayu yang panjang dan besar. Baru kali itu, aku melihat ada penggaris kayu sebesar itu. Entah akan digunakan sebagai apa. Akan tetapi, mimik wajah perempuan welas asih itu tidak sedang marah. Sebaliknya, senyum berseri, terhias di bibirnya ditambah dengan binar mata yang bahagia hingga memperlihatkan kerutan halus di kedua ujung kelopaknya.

“Siapa di sini yang suka bernyanyi?”

“Saya! Aku! Aku juga! Saya, Bu Guru!”

Seketika, kelas yang hening menjadi riuh. Ada yang menjawab sembari berteriak, beberapa murid laki-laki bahkan ada yang menggebrak-gebrak meja. Bising. Aku menutup kedua telingaku, tapi sepasang bola mataku yang cokelat sibuk  berpindah pandang ke seisi kelas.

Ya Tuhan … sekarang apalagi?

Bernyanyi? Sungguh di luar dugaan. Berbicara saja, leherku sudah hampir tercekik. Masihkah harus ditambah dengan mengalunkan kata bernada naik turun? Benar-benar ajaib rupanya, kupikir kesulitan di sekolah hanya membaca dan menulis.

Dugaanku, salah!

Ya sudah. Ikuti saja lah semua keajaiban bersekolah ini. Memangnya aku bisa apa?

“Ow … ow, ow. Semua boleh berbicara, tapi bukan berteriak, lho! Ini ‘kan di dalam kelas. Bukan di lapangan. Bu Guru masih bisa mendengar dengan jelas suara kalian, asalkan tidak saling berteriak. Bisa?!”

“Bisaaa, Bu Guruuu!”

Serempak, semua menyahut nyaring. Namun, sejurus kemudian, semua menutup mulut masing-masing dengan kedua tangannya. Untuk yang terakhir, aku pun ikut. Bukan karena berteriak, melainkan menahan tawaku supaya tak segera berhenti.

“Nah, begitu dong! Hebat!”

Seraya mengacungkan kedua ibujarinya, senyumnya kembali terbit. Selalu, ada rindu yang menyelusup, kala kupandangi senyum wanita penuh kesabaran itu. Rasa hangat hadir dalam ruang sunyi nan hampa, hati.

“Hari ini, kita bernyanyi Gelang Sipatu Gelang. Semua sudah tahu lagunya ‘kan?”

“Sudaaah!”

Maka, seisi kelas kembali riuh-rendah. Tetap saja, bernyanyi sembari berteriak. Mungkin, memang begitu cara mengeluarkan suara berirama, ya? Sedangkan aku, cukup tertawa kemudian berganti tersenyum. Begitu terus. Selama tujuh tahun usiaku, baru kali itu ada yang mengajariku bernyanyi. Terserah saja, ingin dinamakan apa ketakjuban kalian, yang membaca kisahku ini. Memang begitu nyatanya. Nasib, itu saja.

 

Exit mobile version