Little Nisa (part 7)

Dalam benak Nisa, belum tersimpan banyak pengetahuan. Dulu, sewaktu masih bersama ibunya, tidak ada yang namanya dibacakan buku. Dinyanyikan lagu anak-anak. Apalagi, sampai melihat televisi. Mereka, Nisa, adik, dan ibunya tinggal bersama keluarga dari kakak ibu Nisa. Tidak berani usil dengan barang-barang yang jelas bukan kepunyaan mereka.

Jadi, tidak mengherankan sebenarnya, bila banyak yang belum pernah dialami dan dirasakan oleh Nisa. Rencana bersekolah pun, dia tak pernah diajak berbicara. Tiba-tiba saja, sang ibu mengajak kedua anaknya berkunjung ke rumah nenek, orangtua dari ayah sepasang bocah itu.

Ibu Nisa, sakit. Sudah lumayan parah. Setiap hari hanya mampu duduk di kursi. Terkadang, bila sedang merasa sehat, dia mengajak kedua anaknya bermain, meski hanya di teras rumah. Tak pernah sekalipun kedua anaknya berekreasi. Buat makan harian bahkan cukup dengan sepiring nasi yang disiram air hangat serta dibubuhi sedikit garam. Sekali waktu, jika ada uang hasil pemberian saudara, dibelikannya margarin untuk penambah variasi lauk.

Nisa kecil, tak tahu bahwa hidup seperti itu adalah miskin. Sungguh, dia tak pernah marah, protes, atau pun sampai mogok makan. Bisa tinggal tanpa kehujanan dan kepanasan, itu sudah lebih dari syukur. Beruntung, tetangga kanan-kiri sangat peduli. Tidak jarang, mereka memberikan jajanan semacam gemblong, pisang goreng, juga donat.

Kakak dari ibu Nisa kebetulan berbeda agama. Mungkin itu sebabnya, ibu Nisa tidak berani memberi makan lauk yang sama untuk kedua anaknya. Nisa kecil biasa dimintakan tolong oleh tetangga untuk menemani main anaknya atau sekedar membantu menggendong.

Masih lekat dalam ingatan Nisa, balita yang dimomongnya menangis tiada henti. Tanpa sebab-musabab, menangis keras. Sudah dibujuk, tetap saja menangis. Apa daya, tak ayal sedikit pun, dicubitnya boneka hidup itu. Ajaib, tangisnya berhenti. Berganti kekehan tawa. Nisa mengulangi mencubit, sembari membelalakkan sepasang matanya. Balita itu kembali terkikik geli.

Akhirnya, anak kecil dengan anak bayi, bermain bersama. Saling membunuh jenuh dengan bercanda dan tertawa. Sesederhana itulah, bahagia.

Setelah tahu di rumah ada televisi, aku mulai digelitik penasaran. Merancang waktu yang pas untuk bisa menonton televisi. Ajaib! Bagaimana mungkin dari kotak yang tidak sampai sebesar tubuh manusia, bisa menyimpan banyak hal?

“Nek, jadi kapan dong Nisa boleh nonton televisi?”

“Siaran televisi baru ada sore hari. Tapi ‘kan kamu sudah dekat waktu ujian. Nanti saja, selesai ujian,” jelas Nenek, “kalau cuma siaran televisi yang biasa begini, isinya banyak berita. Ngga ada film anak-anak,” tambah Nenek.

“Wah, begitu ya? Iya deh! Abis ujian aja. Bener ya, Nek!” pinta Nisa dengan wajah sumringah.

“Yaa, boleh. Sudah, sekarang siap-siap belajar. Jangan kelamaan bengong di depan pintu kaya tadi. Nggak baik!”

“Lho, emang kenapa Nek?”

“Buang-buang waktu aja. Masih kecil kok senang melamun.”

“Yah, Nenek. Kirain kenapa ….”

Akhirnya, hingga malam beranjak, aku terus berkutat dengan buku pelajaran. Berusaha berkonsentrasi. Namun, pandanganku selalu saja tertuju pada benda berkaki empat. Posisi kotak besar itu mulai menarik minat. Akan tetapi, perintah Nenek untuk mementingkan belajar lebih penting.

Aku sadar, sekolah yang dijalani  pasti ada maksud baik. Jika tidak, mana mungkin diri ini sampai harus terpisahkan jauh tanpa waktu yang pasti dari mama.

Kupandangi polah adik. Sedang asyik menyusun mainan prajurit-prajurit kecil di lantai. Seolah tak pernah resah dengan ketidakhadiran seorang mama.

Padahal, aku tahu betul, adik tidak bisa tidur jika belum dikeloni mama. Sewaktu masih tidur bertiga dulu, aku sering mendapatkan punggung mama sebagai teman tidur. Bocah yang selisih satu tahun denganku itu baru bisa tidur jika menatap wajah mama.

“Nisaaa, jangan melamun! Sudah dibilangin tadi. Kok masih dikerjain juga? Memangnya bisa, belajar sambil melamun?” gusar Nenek.

“I-iyaa, Nek. Maaf. Tadi masih kepikiran yang dikejar anjing. Besok Nisa ijin lagi, ya Nek! Belajar bareng di rumah temen.”

“Boleeh. Tapi pulangnya jangan sampe kesorean, ya! Nenek kan cuma sendirian di rumah.”

Begitulah. Ujian sudah dekat. Aku harus belajar sungguh-sungguh. Mengejar ketertinggalan yang cukup banyak karena terlambat mendaftar masuk sekolah. Selebihnya, biar Tuhan yang menentukan.
Pagi menjelang, kokok ayam tetangga depan rumah riuh terdengar. Aku sudah siap ke sekolah. Nenek sudah duduk di ruang tamu yang diisi 4 kursi rotan. Sepertinya menanti seseorang. Terlihat, pakaian Nenek lebih rapi. Biasanya hanya pakai daster saja.

“Nek, pamit ya. Tadi udah sarapan.”

Aku menggamit punggung tangannya yang putih dan banyak kerutan. Tangan yang selalu rajin membuatkanku cemilan. Supaya aku kelihatan lebih gemuk, tidak kurus kering.

“Ya, hati-hati.”

“Ada yang ditunggu, ya Nek? Tumben, nggak pakai daster,” tambahku. Aku mulai mengenakan sepatu sambil duduk di depan pintu.

“Hmm, iya. Ada yang mau ambil darah Nenek, buat dicek ke laboratorium.”

“Ooh. Eeh, apa Nek? Labotarium itu apa?”

“La-bo-ra-to-ri-um. Tempat buat periksa darah. Bisa buat tes anak yang takut anjing juga.”

Kupandangi wajah Nenek. Biasa saja, tidak ada cengiran usil.

“Ihh, yang terakhir itu pasti becanda. Iya, kaan?” cibirku pada Nenek. Kali ini, senyumnya melebar. Memamerkan barisan geligi yang masih utuh dan rapi. Ah, Nenekku. Aku mulai menyayanginya.

“Tuuh,kaan! Nenek jail! Nisa pamit ya, assalamualaikum, Nek!”

Pagiku ceria. Menyusuri jalanan gang demi gang. Jarak ke sekolah kutempuh dalam tiga puluh menit. Saat melewati rumah Debby, pintunya tertutup. Pertanda ia sudah berangkat lebih cepat. Kulanjutkan perjalanan. Melintasi pasar. Bau menyengat menyambut penciumanku. Tiba di ujung gang, akhirnya bisa juga bernapas lega. Berganti aroma rerotian. Martabak manis, kue pukis, kue lupis, kue putu. Wuih, di seberang jalan, bermacam gorengan menumpuk di gerobak kaca. Pisang goreng serasa menjerit, memintaku untuk membawanya ke sekolah.

Untung saja, aku tidak punya uang. Semua jadi cepat dijawab. Abaikan!

Sedikit lagi, sampai di sekolah. Namun, terdengar suara memanggilku saat melewati komplek perumahan.

“Nisa, tungguin!”

Aku menghentikan langkah, menoleh ke belakang. Rupanya Lina sedikit berlari kecil berusaha menyusulku.

“Hei, Lin! Tumben, bisa barengan ketemu di sini. Kesiangan?”

“Nggak lah! Lu aja yang kecepetan, kali! Ini baru jam setengah tujuh, tau!” Lina akhirnya menyamai posisiku. Kami pun berjalan bersama.

“Hehehe, gue ‘kan biasa jalan jam segini. Tapi suka bareng Debby. Tadi pas gue lewat, pintunya udah tutupan,” jelasku pada anak yang berkaca mata itu.

“Oh, gitu. Piket kali, makanya dia berangkat duluan?”

“Eh, bener juga. Kayanya sih ‘gitu,” timpalku.

Tak terasa, kami sudah sampai di depan pintu kelas. Terlihat Debby sedang menyapu di koridor bangku. Benar juga, dugaan Lina.

 

Exit mobile version